Dulu saya adalah pemabuk, lebih tepatnya yang suka mabuk perjalanan baik jauh atau kadang juga dekat, memang nggak selalu muntah dan nggak selalu merasakan pusing, tapi ada aja mabuknya.
| Generated Photo |
Kalo punya masalah mabuk perjalanan darat kayak gitu, udah bisa dipastikan saya nggak punya mobil dan nggak terbiasa naik mobil juga, karena dari zaman saya SD pun berangkat sekolah bisa dituju dengan hanya jalan kaki. Jadi wajar aja kalo punya masalah mabukan.
Banyak faktor yang membuat saya bisa pusing atau merasakan mabuk ketika naik kendaraan, sebutlah mobil yang nggak nyaman, bau solar, bau mesin yang udah tua, bau ketek, bau bawang, bau apapun itu yang bikin pusing dan satu yang bisa bikin pusing juga, cara nyetir sopir.
Gaya nyetir orang kayaknya emang beda-beda ya, termasuk sopir angkot atau bahkan sopir pribadi pun, saya ada cerita memalukan dengan sopir pribadi.
Saya masih ingat dulu waktu masih SMP, pernah naik mobil temen, masih inget banget waktu itu naik mobil Honda City Sedan Generasi kedua, berwarna emas.
Saya duduk di belakang sebelah kiri, temen saya di sebelah kanan saya dan temen yang punya mobil duduk di kursi penumpang juga pastinya, dia duduk di depan sebelah kiri, di samping sopir pribadi keluarganya.
Waktu itu perjalanan dari rumah menuju ke pesantren, siang hari setelah jam makan siang. Sebelumnya memang udah janjian melalui SMS, mau ikut nebeng berangkat ke pesantren.
Jam makan siang datang, saya dan Arpin temen saya makan siang seperti biasa dengan lauk tumis cumi pedas manis, enak banget dan kami makan dengan lahap. Kemudian ada SMS masuk yang bilang kalo temen saya mau berangkat dari rumahnya ke tempat Kami dijemput. Nggak terlalu jauh, mungkin sekitar 10 menit perjalanan.
Saya dan Arpin naik mobil, Kami ngobrol-ngobrol sebentar, sampai sekitar 4 kilometer kemudian, temen saya tidur, sedangkan saya dan Arpin masih melek dan pada beberapa saat kami saling berpandang, mata Kami seperti berbicara hal yang sama, kemudian Arpin memberikan gesture seperti mabuk pada umumnya, saya yang dari tadi udah mulai merasa pusing dan memang ada mual, juga mulai memberikan gesture dan reflek yang sama.
Dunia terasa begitu lambat, tujuan masih jauh, tapi nasi cumi yang kami makan sudah dekat dengan mulut, suasana genting berdua di jok belakang Honda City Sedan Gen 2 itu. Kami kebingungan mencari kresek untuk membuang muntahan nasi cumi itu, ada rasa segan dan nggak enak untuk membangunkan temen kami dan meminta sopir untuk berhenti dan melipir dulu sebentar.
Kami masih berkutat dengan "GIMANA INI?", seolah tak ada orang lagi di depan kami yang bisa kami minta tolong, padahal kayaknya bisa aja dimintai tolong, tapi kami memilih untuk tidak melakukan itu.
Muka Arpin memerah, matanya berair, tangan kanannya menutup mulutnya dan disusul tangan kirinya menutup tangan kanannya. Nggak lama kemudian pipinya mengembung, seperti dinding yang tak kuat menahan deru ombak Tsunami, begitu pula muntahan yang mendobrak bibir yang ditahan kedua tangan, akhirnya membuncah juga; "DUARRR" kayaknya seperti itu jika dianalogikan balon hijau.
Muntahan itu sedikit berhasil ditadahi dengan kedua tangan si Arpin, saya yang melihat nasi cumi yang bercampur dengan enzim tubuh beserta lendir yang sudah menghitam karena tinta cumi itu, reflek muntah pula.
Jok belakang chaos sekali, seperti ada ledakan, tapi ini lembek dan beraroma cumi, menjijikan.
Saya sempat menoleh ke arah sopir saat kejadian ledakan itu terjadi, sepersekian detik sopir itu melihat ke arah Kami yang sedang berjuang menahan muntahan. Saya dan Arpin berinisiatif untuk buka kaca mobilnya, buang muntahannya, iya Kami melakukan itu.
Arpin membuang muntahan di kedua tangannya keluar jendela pintu mobil sebelah kiri, iya kami mengganti posisi supaya Arpin bisa membuang nasi cumi hitam itu. Saya, sudah jelas ikutan muntah juga, tapi langsung buka kaca jendela pintu kemudian mengeluarkan kepala hingga pundak saya berada di luar untuk memuntahkan yang ternyata sama juga nasi cumi yang sudah menghitam itu.
Muntahan Kami mengotori Honda City, juga baju-baju Kami.
Keadaan mulai mereda, pusing dan mual masih tetap ada, tapi nasi cumi mungkin udah terbuang semua.
Akhirnya sampai di tujuan, Kami kembali ke kamar masing-masing dan temen kami pun.
Saya menceritakan kejadian chaos itu ke temen yang punya mobil itu, dia cuma bilang "Ohh iya tadi sopirnya bilang, temennya muntah.", terus saya sedikit protes dengan bilang "Kenapa yang nyopirin bukan Mang Holis aja sih?!". Mang Holis adalah sopir temen saya juga yang lain.
Saya dan Arpin juga ternyata mengharapkan hal yang sama. Karena gaya nyetir Mang Holis itu lebih enakeun, nggak grasak-grusuk bontang-banting.
Dari kejadian itu, saya mencoba belajar nggak jadi orang mabukan lagi dengan cara melawan pikiran atau respon tubuh yang nggak nyaman kalo dirasa mulai mual. Selain dengan memberikan sugesti, saya juga selalu mencari posisi senyaman mungkin yang nggak membuat pusing dan mual datang.
Alhamdulillah sampai sekarang udah nggak pernah mabuk-mabukan lagi. Perjalanan naik bis Tasik - Merak ketika merantau selama 5 tahun pun aman-aman aja.
Yang suka mabuk-mabukan, mungkin bisa dicoba tips yang nggak seberapa itu.
Sekian. Hatur nuhun.
Tidak ada komentar